https://lh3.googleusercontent.com/OorDrb-7WFaxsvtVvpy9WC_fUTx1txE3wi6Vyqc46eb4QxpfSrixOEyNRsOrx_HTB94BFQJNpi8=w1329-h747-no

Pengalaman hamil dan melahirkan di Korsel

Masa Kehamilan

Sekitar tahun 2012,  saya  ikut suami berpindah tempat tinggal sementara  waktu ke Korea Selatan . Saat itu usia kehamilan saya sekitar kurang lebih 20 minggu. Ini merupakan kehamilan pertama saya.

Sebelum berangkat, banyak hal yang saya persiapkan diantaranya:

  • Memeriksakan kehamilan ke dokter kandungan sebelum berangkat (dokter kandungan memberikan surat izin terbang, mencatat riwayat kehamilan secara lengkap dengan bahasa inggris, memberikan  vitamin dan obat- obatan untuk sakit- sakit ringan seperti batuk yang aman bagi ibu hamil, dll)
  • Susu ibu hamil (saya membawa susu khusus ibu hamil tapi tidak terminum, karena disana ternyata banyak susu yang lebih enak)
  • Membawa barang- barang yang dibutuhkan selama hamil dan melahirkan (hanya untuk sekedar berjaga- jaga) seperti baju hamil. baju tidur ibu dan bayi, celana bayi, popok dan pernel, minyak kayu putih,  minyak telon (di sana tidak ada minyak telon).

Dengan keyakinan dan keberanian akhirnya saya menginjakan kaki di negeri gingseng. Saat itu cuaca masih agak dingin sekitar 5 derajat. Udaranya bersih, membuat saya nyaman bernafas.

Tiga hari setelahnya, saya dan suami mengurus pembuatan ARC (Alien Registration Card), semacam KTP namun untuk warga asing di Korsel. Setelah pembuatan ARC selesai dalam waktu kurang lebih satu minggu, selanjutnya kami mengurus asuransi kesehatan. Fasilitas kesehatan disini katanya cukup mahal jika tidak dicover asuransi kesehatan dari pemerintah.

Setelah semua administrasi kependudukan selesai diurus, mulailah saya mencari dokter kandungan  sekaligus rencana tempat persalinan. Dari seorang teman dari forum Rumaisa Korsel (Rumah Muslimah Indonesia di Korea Selatan), saya mendapatkan  banyak infomasi yang saya butuhkan.

Mencari Klinik

Berbekal informasi tersebut, akhirnya saya dan suami memilih sebuah klinik dan tempat persalinan bernama Yang Klinik, yang bertempat di daerah Ssangmun. Perjalanan dari tempat tinggal kami ke klinik ini membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit, dan dapat diakses menggunakan subway, bus maupun taxi. Yang Klinik merupakan sebuah klinik yang tergolong kecil, namun fasilitas yang lengkap dan bersih membuat kami nyaman. Hanya saja kami agak terkendala dengan bahasa saat melakukan pendaftaran.

Kami dibuat kagum oleh petugas kesehatan di klinik ini, mereka bekerja dengan sangat gesit, ramah dan juga profesional. Kami tidak dibuat bosan menunggu antrian, walaupun pasiennya banyak. Kebanyakan para ibu hamil memeriksakan kehamilan ke  klinik  sendirian tanpa didampingi suami atau keluarga.

Yang Klinik memiliki dokter  kandungan laki- laki dan dokter kandungan perempuan.  Saat melakukan pendaftaran, saya memberi tahu petugasnya kalau saya ingin diperiksa oleh dokter kandungan perempuan. Dokter kandungan disini mau dan bisa berbicara bahasa inggris, walaupun kadang-kadang sedikit sulit dimengerti.

Sekali kontrol dan USG biayanya 30.000 won atau sekitar Rp300.000,- pada waktu itu. Tiap kali kontrol, dokter kandungan sama sekali tidak memberikan vitamin apalagi obat- obatan, karena kehamilan dinyatakan normal. Meskipun demikian, pada trimester ketiga (usia kehamilan 7 sd 9 bulan) dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan darah di laboratorium. Fungsinya adalah untuk mengukur kadar Haemoglobin. Jika kadar Haemoglobin kurang, dokter akan memberikan obat penambah darah atau zat besi.

Pengalaman hamil dan melahirkan di Korsel
Masa kehamilan 3 bulan

Tunjangan Ibu Hamil

Di  Korea Selatan, setiap ibu hamil diberikan tunjangan senilai 500.000 won oleh pemerintah. Di kali pertama kontrol, saya meminta surat rekomendasi dokter kandungan sebagai salah satu syarat untuk mengurus tunjangan kehamilan tersebut. Setelah semua persyaratan terpenuhi, kami  mendapatkan semacam kartu ATM yang berisi dana tunjangan kehamilan. Dana tersebut tidak bisa dicairkan, namun hanya dapat digunakan untuk kontrol kehamilan dan biaya persalinan. Setiap kali membayar biaya kontrol kehamilan maupun biaya persalinan saya waktu itu, tinggal gesek kartu di alat yang tersedia di kasir.

Beberapa hal yang harus dijaga saat hamil adalah mengurangi stress, menjaga pola makan dan rutin berolahraga. Di Korea Selatan, wanita hamil tidak diharuskan minum susu hamil dan minum vitamin setiap hari. Menurut saya, hal ini adalah karena tingkat kecukupan gizi masyarakat disini sudah baik. Untuk berolahraga diluar rumah cukup mudah dilakukan. Banyak trotoar yang  lebar dan nyaman untuk pejalan kaki. Alat- alat fitness juga tersedia untuk umum di titik-titik tertentu. Untuk olahraga di dalam rumah, saya menggunakan gym ball/birth ball, atau cukup jalan bolak-balik di dalam ruangan.

Pada usia kehamilan 32 minggu, saya juga menyiapkan tas yang berisi barang- barang yang diperlukan saat persalinan (untuk berjaga-jaga jika saat melahirkan datang), seperti:

  • Baju tidur, daleman dan bra menyusui
  • Perlengkapan mandi
  • Pembalut ibu bersalin
  • Stagen/gurita jika perlu
  • Minum dan snack secukupnya
  • Birth notes yang diberikan ke dokter sebelum bersalin (misalnya: ingin IMD (Inisiasi Menyusui Dini), mengumandangkan Adzan setelah bayi lahir, ingin rooming in, tidak memakan daging/ayam untuk menu makan di Klinik, dll)

Untuk calon bayi :

  • Baju bayi
  • Perlengkapan mandi bayi (sabun, minyak telon dan cream bayi)
  • Selimut bayi
  • Pernel
  • Popok
  • Tissue basah
  • Topi bayi
  • Note: Bedak bayi tidak boleh digunakan karena dikhawatirkan dapat mengganggu pernafasan bayi

Menjelang Persalinan

Di usia kehamilan 38 minggu,  dokter menyarankan saya untuk berjalan kaki minimal 30 menit sehari. Di hari senin (waktu itu), menjelang magrib  sekitar pukul 08.00 waktu Seoul, kontraksi palsu (mulas yang masih jarang)  mulai muncul. Namun, saya berusaha untuk tetap tenang. Karena katanya, persalinan pertama itu agak lama dibanding persalinan kedua dan seterusnya. Saya masih bisa berjalan-jalan dengan sesekali istrirahat.

Hari berikutnya tepatnya hari selasa sekitar jam 12.00 siang, intensitas kontraksi agak sering. Jam 09.00 malam kontraksi pun makin sering. Hingga akhirnya Jam 02.00 dini hari kami memutuskan untuk pergi ke klinik. Suami mencoba menelepon taxi, tetapi karena terkendala bahasa, kami tidak berhasil mendapatkannya.

Sebelumnya, seorang teman memberi tahu kami bahwa pemerintah menyediakan ambulan gratis disetiap wilayah. Akhirnya suami menelepon ambulan tersebut di nomer 119. Petugas yang berbahasa Korea menghadirkan seorang peterjemah ke bahasa Inggris, sehingga mereka berbicara bertiga seperti sebuah teleconference. Petugas ambulan menanyakan alamat, dan memberitahu bahwa mereka akan datang dalam waktu 10 menit. Tepat 10 menit petugas dan ambulan sampai di tempat tinggal kami. Petugas ambulan menanyakan nomor telpon klinik yang dituju untuk memastikan bahwa klinik tersebut ada yang jaga malam. Tigapuluh menit kemudian kami sampai di  Yang Klinik, dan petugas klinik telah siap memberikan pertolongan kepada kami dengan sigap.

Saya merasakan mulas yang semakin lama semakin kencang. 2 orang perawat langsung membopong saya naik tangga menuju ke lantai atas. Letak ruang bersalin berada di lantai 2. Saat itu saya masih bisa berjalan, walau dengan susah payah. Namun, saya tidak mengerti kenapa saya dibopong menaiki tangga saat masuk ruang bersalin, padahal ada lift, hehe. Di Yang klinik, suami tidak diperbolehkan mendampingi atau masuk keruang bersalin, tentu  sangat berbeda dengan di Indonesia. Di Indonesia saat bersalin,  suami atau ibu (orangtua)  diperbolehkan mendampingi proses persalinan.

Persalinan

Dokter melakukan pemeriksaan dalam, dan hasilnya sudah pembukaan 6 cm. Kemudian perawat memasang infus. Dokter memecahkan ketuban. Setelah itu  melakukan pemeriksaan dalam kembali, ternyata pembukaan sudah lengkap (10 cm). Dokter menyarankan saya untuk mengedan, saat mengedan pertama dokter sepertinya melakukan episiotomi. Sepertinya episiotomi masih menjadi prosedur rutin, padahal di Indonesia dokter/bidan melakukan episiotomi hanya jika dibutuhkan. Namun demikian, bayi belum juga keluar. Saya kembali mengedan untuk kedua kalinya. Hari Rabu Pukul 04.30 pagi waktu Seoul, bayi perempuan  saya lahir secara normal.

Pukul 07.00 pagi masih di hari yang sama,  saya sudah harus berjalan kaki turun tangga ke  lantai bawah atau lantai 1 untuk melakukan pemeriksaan jahitan (padahal saat itu baru 2 jam pasca persalinan). Ibu pasca persalinan normal diperbolehkan pulang dalam waktu kurang lebih 2-3 hari. Karena sebelumnya memang berencana untuk memberikan ASI ekslusif, saya memberi tahu perawat agar tidak memberikan susu formula selama di klinik dan meminta rooming in dengan bayi.

Itulah pengalaman hamil dan melahirkan saya selama di Korea Selatan. Pengalaman hidup yang pasti akan dikenang seumur hidup.

4 thoughts on “Pengalaman hamil dan melahirkan di Korsel”

  1. salam…saya skrg tinggal di korea bersama suami dan hamil 4 bulan…skrg dlm proses permohonan ARC,mau tanya,bagaimana mahu pohon kad bantuan biaya klinik 500,00won seperti puan nyatakan?adekah diminta dari klinik atau imegrasen?terima kasih ya.

    1. Seingat kami, kami datang ke KB bank terdekat dengan membawa buku kontrol kehamilan, lalu diberi formulir untuk dibawa ke dokter kandungan. Setelah formulir diisi oleh dokter, kami kembali lagi ke KB Bank, lalu dibuatkan rekening baru dan kartu Mom card yang hanya dapat digunakan di klinik tempat kami mengontrol kehamilan.

Komentar Anda